Inovasi IoT Mahasiswa KKN-PPM UGM Arung Campalagian untuk Monitoring Suhu Sarang Penyu di Pantai Ba’batoa
Di ujung barat Sulawesi Barat, tepatnya di Pantai
Ba’batoa, Desa Lapeo, Kecamatan Campalagian, berdiri sebuah organisasi nirlaba
bernama Laut Biru. NGO ini berfokus
pada pelestarian ekosistem laut, mulai dari konservasi penyu, konservasi terumbu
karang, pemilahan sampah laut, hingga penanaman mangrove.
Dalam upaya melestarikan penyu, Laut Biru mencatat tingkat keberhasilan penetasan telur mencapai 90
persen—angka yang patut dibanggakan. Namun, di balik keberhasilan tersebut,
muncul persoalan baru: sebagian besar tukik yang menetas adalah
betina. Fenomena ini terjadi karena
suhu pasir di sarang penyu cenderung hangat, berkisar antara 28–30°C, yang
lebih banyak menghasilkan tukik betina. Sebaliknya, tukik jantan terbentuk pada
suhu lebih rendah, yakni 26–28°C.
Sayangnya, Laut Biru belum memiliki perangkat untuk memantau suhu pasir sarang
secara akurat dan berkelanjutan. Menjawab tantangan tersebut, 3 Mahasiswa dari
tim KKN PPM UGM Arung Campalagian; Rizal Kurniawan Saputra (Teknik Elektro),
Salma Nur Jihan (Teknologi Rekayasa Internet) dan Wahyudi Maulana (Teknik Fisika), berinisiatif membuat prototipe alat pemantau suhu berbasis Internet of Things (IoT) yang mampu
menampilkan data secara real- time. Alat yang dikembangkan menggunakan mikrokontroler ESP32 sebagai pusat kendali, serta dua sensor utama: DHT22 untuk
mengukur suhu udara sekitar sarang, dan DS18B20 yang ditanam di dalam pasir untuk memantau
suhu sarang secara
langsung. Data suhu kemudian
dapat dipantau secara daring, sehingga
pihak Laut Biru bisa
mengambil langkah antisipasi, misalnya mengatur naungan atau
kelembapan, guna menyeimbangkan rasio kelamin tukik.
Dengan inovasi ini, diharapkan konservasi penyu di Pantai
Ba’batoa tidak hanya mempertahankan tingkat penetasan yang tinggi, tetapi juga
menjaga keseimbangan populasi jantan dan betina demi keberlanjutan spesies di
masa depan.
Penulis : Rizal Kurniawan Saputra,
Salma Nur Jihan,
Wahyudi Maulana